Timang merupakan bagian dari busana tradisional pria Jawa dalam sebuah acara formal. Keberadaan timang berkait dengan epek dan lerep. Ketiganya membentuk kesatuan dan berfungsi untuk turut mengencangkan sabuk lontong maupun untuk menempatkan keris. Timang pada dasarnya berupa gesper dalam busana tradisional. Bukan hanya estetik namun juga kaya makna filosofi, sehingga hanya dikenakan pada busana resmi bukan busana tradisional sehari-hari.
Berbentuk dasar persegi dengan kompenan bagian utama berupa dua buah pengait. Bagian pegangan pengaitnya terbuat dari logam kuningan dengan hiasan batu pemata berwarna putih di sekelilingnya. Timang berfungsi untuk mengencangkan sabuk kain yang dinamakan epek. Dalam penggunaannya timang berada satu garis lurus dengan posisi lipatan atau wiru kain batik. Apabila masih menyisakan panjang, maka ujung epek akan dimasukan ke dalam lerep. Secara filofosi timang berasal dari kata timbang yang berarti kemantapan menimbang atau memilih tanpa perasaan gamang.
Judul : TIMANG
Tanggal : Abad XX
Geografi : Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah
Budaya : Jawa
Media : Kuningan, Batu Permata
Dimensi : 8 cm x 6 cm
Klasifikasi : Etnografika
Kredit : –
Nomor Aksesi: D.38.16.2002
–
–